Kamis, 05 Januari 2012


Pendidikan Moral atau Moral Pendidikan?

Pendidikan, sebagaima yang dikatakan oleh Ivan Illich adalah sebuah proses untuk merubah prilaku “change behaviour”, sebuah masa yang kalau dalam bahasa kultur orang jawa dinamakan dengan mlungsungi, artinya pendidikan adalah merupakan dinamika yang dilewati oleh seseorang dalam rangka mendewasakan diri Agar mencapai manusia dengan pribadi yang matang. Sampai di sini tentu pendidikan yang ideal adalah pendidikan yang mengedepankan perubahan karakter pada peserta didik. Pendidikan yang mampu membawa civitas akdemika mampu untuk memahami bahwa ia sebetulnya adalah manusia, mahluk paling baik di antara mahluk-mahluk Tuhan yang lainnya.
Merujuk pada apa yang dikemukan Illich di Atas maka apa yang dicanangkan oleh kementrian pendidikan nasional dalam tema pendidikan nasional kita tentu sangat relevan, pendidikan karakter sesungguhnya adalah esensi dari pendidikan itu sendiri.
Tapi yang menjadi pentanyaan adalah apakah konsep pendidikan karekter tersebut bisa di terjemahkan dengan baik pada tataran pelaksanaan? Bagaimana implemntasi di lapangan? Lalu jika memang telah diterapkan apa dan bagimana hsilnya?
Debra Mashek (2007) mempunyai sebuah tesis menarik tentang Pendidikan, ia berangkat dari sebuah pengamatan tentang gejala-gejala yang semakin mebingungkan akhir-akhir ini. Betapa tidak ia sangat miiris melihat fenomena para pelaku kejahatan extraordinary misalanya (Baca: Korupsi) sulit menemukan dan menutup mata bahwa mereka Para Koruptor adalah para sarjana lulusan institut, universitas serta Sekolah Tinggi, bahkan D. Zawawi Imron dari Madura jauh-Jauh Hari sudah Mengatakan Bahwa sangat sulit Menemukan Koruptor yang tidak Haji, apakah karena konsep Tentang Ibadah dan Korupsi serta Kejahatan Sudah sedemikian kabur dan sengkarutnya sehingga para Koruptor ramai-ramai “Money-Laundry” hasil Curiannya dengan Pergi Haji? Mungkin juga apakah konsep tentang syurga dan Neraka sudah sedemikian Dangkal sehingga dipersepsikan bahwa di syurga sekarang sudah tidak Kering Kerontang dan panas berkepanjanagan karena sudah ada Program Reboisasi Besar-Besaran semenjak para Koruptor—maaf terpakasa menyebut Nama “Pak Harto, Bu Tien”—Masuk Neraka?
Sementara ini saya berpendapat bahwa ada sesuatu yang tidak jalan pada proses Pendewasaan Mental Kita, ada yang ganjil dari Proses Percaturan Bathin Kita. Maksud Saya begini, Semakin banyaknya kalangan Akademisi, Cerdik Cendikia tentu mestinya berpotensi pada semakin besar pula harapan kita terhadap Kesejahteraan, Semakin banyak ilmuan itu Indikatif terhadap Kemajuan Bangsa. Tapi kita semua tahu bahwa yang terjadi hari ini Bukanlah seperti itu dan sangat jauh Panggang dari api.
Kembali pada Debra Mashek, Ia Mengatakan Bahwa Gejala-Gejala yang kita Alami Sekarang ini merupakan Akumulasi dari Ketidak Pahaman Kita terhadap Fenomena Pembangunan Manusia, Lihatlah Betapa pendidikan Manusia Modern sekarang ini lebih menekankan Aspek-Aspek Kognitif-Intelektual dan Keterampilan Keterampilan untuk Egois. Padahal Kata Debra bahwa yang Esensial Dari Bangunan Manuasia adalah Moral. Lihatlah Betapa Sulit sangat Untuk hanya sekedar Membedakan mana siswa dan Mana Robot. Karena kita tak Menemukan Aspek “Manusia” pada Peserta Didik, Pendidikan kita Tak Pernah dengan Sungguh-sungguh Meletakkan Peserta Didik sebagai manusia, Mereka lebih sebagai Barang Komoditi yang seakan-akan siap di-Create sesuai Selera Kurikulum, maka sampai di sini saya berani Meminjam istilahnya Sujono Samba bahwa Sekolah Adalah Robotisasi, Mereka anaka-anak yang Memakai seragam bukanlah Manusia melainkan Robot atas perlaukan Kita.
Jika kitarik Kedalam Premis yang Lebih jauh tentu kita akan Menemukan kejanggalan-kejanggalan yang mestinya bisa kita perbaiki jauh-jauh hari,
Untuk sekedar tambahan bahwa mestinya Pendididikan itu bukan selalu Masalah Sekolah, pendidikan Bisa hadir di mana-mana di gang-gang kumuh, Perkantoran, selokan-selokan, bantaran Rel, tepian Sungai juga apapun. Maka dari itu setidaknya kita juga harus mulai memikirkan bahwa harus ada pemikiran serta ide yang Progressif-Revolusioner terkait masalah Pendidikan di negara kita.
Saya sungguh tidak Berani Mengkritik, apalagi Membebani Pemerintah dengan tuntutan ini itu karena saya yakin bahwa Pemerintah itu sudah sangat Bekerja dengan Sungguh, walaupun tak Selalu. Wallahu A’lam
Fariz Alniezar
Jakarta, 02 Januari 2012

Sabtu, 10 Desember 2011

SOLILOKUI


Tuhan dan Politisasi “Anak-Anak Kecil”

Hari saya memaksakan diri untuk memperkosa Tubuh yang sudah lunglai terkuras fisik maupun psikis akibat amburadulnya system kerja juga ruwetnya urat saraf berfikir ini, rasanya semakin-hari tubuh ini harus dipompa dan dipompa lagi untuk beradaptasi dengan lingkungan yang serba amburadul ini.
Anda tahu, konon tidak ada hubungannya antara produktifitas kerja dengan penghasilan atau gaji yang dihasilkan. Dulu ketika saya masih mendekam di Pesantren dan belum mengenal lebih jauh dunia kerja saya adalah orang yang pertama kali menentang bahwa Kerja jelas berbanding lurus dengan penghasilan atau gaji. karena pikir saya simpel bahwa gaji seseorang itu linier dan diukur dari hasil yang ia kerjakan, toh kata guru ngaji saya di kampung ada sebuah adagium arab yang masyhur bahwa al-ujru biqadri ta’ab bahwa ganjaran, Kepuasan juga materi termasuk di dalamnya itu tergantung kerja juga usaha yang kita lakukan.
Tapi keadaan itu berbanding terbalik tatkala saya sudah mulai menginjakkan kaki di Dunia Kerja, bahwa gaji atau upah tergantung produktivitas Kerja adalah hal yang sulit untuk diterima Oleh akal, sangat Mudah ternyata untuk mencontohkan bahwa Kerja itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan gaji. Sesekali jika anda perhatikan betapa Susahnya seorang kuli bangunan yang harus mengulur cor-coran hingga lantai 4 kemuadian ia menunggu sambil mengusap butit-butir peluhnya taktkala wadah cor itu datang ia lalu mengulanginya dan mengulanginya lagi sebagaimana ia lakukan dari awal, ia dengan tenaga ekstra, beratus-ratus tetesan Peluh yang tumpah 15.000 ia terima.
Lalu, begegaslah arahkan pandangan anda kesebarang bangunan sana, ada satu orang hanya mengamaiti sambil membawa gulungan kertas ia tunjuk sana-sini serta berargumentasi ke sana-kemari menjelaskan bahwa bangunan ini kekurangannya di sini, kuang miring, kurang simetris juga kurang apalah, ia belakangan disebut dengan insinyur dengan keringat beberapa tetes ia mendapat puluhan hingga ratusan juta itupun bisa bervariasi durasinya, per hari ataupun per minggu juga atau per gambar.
Lalu sampai di sini saya teringat dengan seseorang yang pernah menghardik saya bahwa tidak ada hubungannya sama sekali antara apa yang dinamakan ibadah dengan Pahala apalagi syurga.
Tentu saya tak usah menelaskan panjang lebar ala dai-dai infotainment yang “lipstik” itu.
Petanyaannya bukankan Tuhan sudah menjajikan pahala sekian untuk ibadah sekian? Satu tahun pahala bagi temen-temen yang mau berpuasa Asyura, dua buah gunung pahala bagi rekan-rekan yang mau bertakziah sampai mengantarkan ke kuburan,, Juga Sejumalah pahala –pahala yang lain.
Lha itukan bahasa politis Tuhan, untuk Menstimuli “anak-anak kecil” agar mau beribadah guna menjaga keseimbangan alam, agar dimensi sosial harmoni alam terjaga. Kalaulah misalnya tanpa di iming-iming pahala tentu “anak-anak kecil” itu tak mau bertakziah, juga bersedekah.
Lho anda berani mengatakan bahwa Tuhan itu politis?  Sungguh berani anda? Lantas al-Qur’an?
Ya, Tuhan memang Politisi Ulung, skenarior kelas wahid dan sineas par-excellent, Ia mengajarkan kesantunan dalam berpolitik. Anda harus tahu bahwa di al-Qur’an tidak ada sama sekali kata-kata yang bermakna politik, siyasah bahasa Arabnya, tapi anda tentu bias mengamati dan mafhum bahwa al-Qur’an dalam mengajak seseorang untuk berbuat baik sangat politis sekali, siyasi sekali.
Fariz Al-Niezar
Karang kabuludan, 11 Desember 2011


Selasa, 11 Oktober 2011

Solilokui



RAKYAT INDONESIA; Ihwal Kekeyangan Penderitaan
Salam,
Mengamati pergerakan serta dinamika perkembangan politik dan demokrasi di Negara ini sama halnya dengan menampar wajah sendiri, apa pasal? Anda tentunya juga pasti tahu bahwa Negara kita sedang sakit atau lebih tepatnya disakiti oleh beberapa orang yang mengatasnamakan dirinya sebagai wakil rakyat. Sebagai bangsa yang sedang tumbuh --dan tidak ada kepastian untuk berkembang—kita selalu dihadapkan pada permasalahan atau lebih tepatnya akar permasalahan yang sama satu kecele, dua kecele dan tiga kecele.
Sudah berapa metode dalam membangun negara kita coba? Presidensial, parlementer, demokrasi  terpimpin maupun non-terpimpin semua gagal, minimal tidak berhasil. Sudah berapa kabinet kita dirikan mulai kabinet Indonesia Raya, Gotong Royong, Reformasi sampai Kabinet Indonesia bersatu Juz 1 dan Juz 2 semuanya belum menampakkan hasil yang signifikan.
Kita semua tahu, Negara yang baik adalah Negara yang mampu menjamin hak-hak hidup setiap warganya, menjamin keselamatan jiwanya, menjamin kedaulatan hukumnya. Tapi tak satupun itu semua kita dapati di Negara ini.
Wajar, jika seorang pedagang asongan pernah berkata, ‘’mau presidennya SBY atau siapapun bahkan Munyuk pun tidak ada efeknya bagi kami rakyat kecil’’ benar, bisa tidaknya mereka menghindari ancaman “tidak makan” di esok hari bukan berkat kebijakan presiden tapi lebih pada hasil usaha mereka sendiri ditambah campur tanggan Tuhan YME. So, terserah Negara ini mau berbentuk apapun, bagaimanapun, dipimpin oleh siapapun pokoknya  rakyat nasibnya ya begitu-begitu saja.
Rakyat sudah sangat terlatih untuk menjadi manuasia-manusia yang “super” untuk hidup di negeri ini. Kalau kita plesir ke Negara-negara yang maju hukumnya semisal belanda, di sana secara psikologis rakyat belanda --karena dilindungi oleh hokum-- maka mereka tidak terbiasa untuk melindungi diri sendiri sedangkan jika kita kontraskan dengan psikologi rakyat kita maka kita akan mendapati keadaan sebaliknya di mana secara psikologis rakyat kita tak terbiasa oleh perlindungan hukum karena hukumnya tak jelas di negeri ini. so mereka sangat terlatih untuk melindungi diri sendiri.
Sebagai rakyat ditinjau dari sudut mental dan psikologi kepribadian penduduk Negara Indonesia adalah fenomena baru yang belum pernah ditemukan oleh antropolog maupun soasiolog paling mutakhir sekalipun, mereka lolos dari teori Ibnu Kholdun bahkan Emile Durkheim sekalipun.
Bahkan berita terbaru mengatakan bahwa Negara-negara timur tengah menjadikan “indonesia” sebagai model dan contoh dalam membangun demokrasi, telisik lebih lanjut yang di maksud dengan Indonesia di sini adalah rakyat Indonesia secara psikologis,
Jika anda kurang yakin dengan apa yang saya ungkapkan maka cobalah sesekali anda perhatikan betapa “teknologi-psikologi-ruhaniiyah” masyarakat indonesia begitu tinggi yakni ketika sebagian daerah terkena banjir disitu pula anda akan mendapati raut gembira wajah-wajah rakyat Indonesia ketika itu, meraka sedih, tentu tapi serta merta kesedihan itu hilang tatkala sorotan mata kamera membidik wajah mereka, lantas mereka tersenyum dan yang lebih mengngembirakan mereka melambaikan tangan kea rah kamera seakan-akan berbisik lirih pada pemerintah—yang lambat mengantarkan bantuan—“tak usah kau bantu aku, percuma aku sudah sangat kuat, terbiasa dan terlatih menghadapi semua ini”.
Hanya rakyat Indonesia yang punya kemampuan menegerial ruhani tingkat tinggi yang mampu mengubah penderitaan menjadi bahan tertawaan bahkan wisata, betapa tidak? Lumpur lapindo yang ditetapkan sebagai bencana nasional disulap oleh mereka-mereka sebagai lahan mencari uang dan dijadikan tempat wisata, ini memang sepele tapi ditinjau dari ilmu psikologi hanya manusia yang bermental kuat lah yang mampu melakukan hal-hal semacam itu.
Wal hasil, pantas kalau nenek moyang kita --kata Robertt Dick Read—pernah menguasai 2/3 dunia.

Karang Kabuludan, 10 September 2011
Fariz Alniezar

Senin, 15 Agustus 2011

SOLILOKUI


Tidak Jelas,
Syahdan seorang munsyi Jawa Timuran pernah berkata bahwa pada saatnya ketidak jelasan-lah yang akan memenangkan segala drama kehidupan, menurutnya puncak dari segala macam kemenangan adalah karena ketidak jelasan itu tadi. Sampai di situ? Tidak bahkan munsyi berbahasa Indonesia dengan logat medok khas Jawa timurnya itu membeberkan sejumlah contoh yang bersifat argumentatif.
Katanya, jika terjadi pertarungan sengit antara dua pendekar dan si pendekar A tahu persis jurus-jurus yang akan dikeluarkan oleh Pendekar B karena ia mampu membaca setiap gerik-gerak bahasa tubuhnya sedangkan di pihak lain pendekar B tidak tahu persis bahkan buta kekuatan terhadap profile, track record serta jurus-jurus andalan pendekar A maka sampai di sini kira-kira bisa ditebak pendekar mana yang akan tampil menjadi jawara pada pertarungan sengit itu. Ya, tentu pendekar A karena ia menguasai medan pertempuran serta ia berasil membuat “ketiadak jelasan” dirinya agar tak terbaca oleh lawan.
Pada saat itu saya tidak begitu sepakat dengan munsyi itu, karena satu di samping saya kurang puas dengan contoh itu dua saya juga harus memakai jurus Plato agar setiap kali menerima sesuatu harus kita curigai dan kita sangsikan keabsahan serta kebenarannya.
Mengapa saya anggap contoh itu kurang argumentatif sehingga belum berhasil mematahkan kekeras kepalahan saya terhadap informasi baru? Karena bagi saya mungkin juga anda sebuah pertandingan ataupun pertarungan apapun levelnya tentu tidak dapat hanya diprediksi secara linier dan pragmatis hitam di atas putih, maksud saya benar jika pendekar A tidak berhasil dibaca oleh perdekar B kemungkinan untuk dia memenangkan pertandingan cukup besar dan terbuka, tapi ingatlah bahwa kata pepatah bola itu bundar, maka segala seusatu sekecil apapun akan bisa terjadi.
Artinya, peluang bagi si pendekar B tetap terjaga walaupun tipis sekali lagi saya ulangi sekalipun tipis.
Tapi setelah selang bebarapa waktu kemudian saya kok jadi agak berfikir historis, menengok sejarah serta menggali nilai-nilai darinya sebagaimana yang dianjurkan oleh Sam Wilders dengan historical thingking-nya atau juga oleh Ben Anderson yang men-fardlu kifayahkan suatu kita untuk mempelajari sejarah sebagai satu kesatuan yang holistik.
Jika menengok sejarah, bukankah pemimpin besar berhasil tumbuh dan “sukses” dengan bekal ketidak jelasan? Kita bisa daftari nama-nama beken seperti Soekarno sang proklamator bangsa ini misalnya sejarah mencatat bahwa asal-usul Soekarno tidak jelas trak record keluarganya juga samar-samar tapi dengan ketidak jelasan latar belakang keluarga tersebut ia berhasil tumbuh dan sukses menjadi pemimpin Indonesia yang tiada duanya. maksud saya sebagai presieden ia memang bisa diganti tapi sebagai proklamator sampai hari inii tidak ada yang bisa menggatikannya.
Soharto, ia lebih parah lagi dengan lika-liku kehidupannya yang serba samar dan tak jelas.  Andre Loys seorang kontributor majalah Times dalam kitabnya Zaman Edan mengatakan bahwa Suharto adalah “anak jadah” raja mataram entah raja yang mana saya juga kurang mafhum tapi yang jelas sejak kecil Pak Harto sudah mengalami pahitnya kehidupan dengan berpindah-pindah asuhan, hampir pernah diasuh Sembilan orang yang berbeda, dan sampai di sini satu kata yaitu soeharto juga tidak jelas latar belakang  sejarahnya.
Jika kita tarik kebelakang, ada nama monumental—meminjam bahansanya W.S Rendra—sang pendekar ingusan dari pedalaman pulau jawa kala kerajaan singosari menapaki kejayaan dengan gagah (atau licik?) pendekar ingusan tersebut mampu menggulingkan raja yang saat itu sedang mencapai titik kulminasi yang bernama Tunggul Ametung, ya ialah yang bernama Ken Arok. Ia juga demikian tidak jelas.
Dan ialah dalam terminologi jawa disebut dengan istilah lembu peteng.
Saya juga kurang mafhum mengapa terminology yang dipakai adalah Lembu Peteng, bukan sapi peteng atau jago peteng, tapi tentu itu semua mengandung makna filosofis yang dalam. Saya yakin itu karena saya kenal betul tradisi orang jawa, mereka sangat halus dalam berbagai bidang, kelakuan, cara berpakaian sampai dengan tutur katanya bahkan jika kita tilik dalam kitab sang “indonesianist”  Franz magnis-Suseno yang berjudul etika jawa di situ dikatakan bahwa kemampuan orang jawa memang luar biasa dalam hal apapun cipta karsa maupun karya bagaimana mungkin mereka bisa mentertawakan hidup yang seraba susah, terbelit utang tapai tetap cengengesan punya anak banyak setidaknya  miniatur itu ia temukan di lakon-lakon pertunjukan ludruk.
Lain Magnis lain pula dengan pengalaman seorang teman yang bercerita pada saya secara langsung bahwa kemampuan sastra terlebih dalam membuat amsal dan metafora, orang jawa memang tiada duanya bagaimana mungkin dalam suatu kesempatan ketika teman saya bertemu dengan seorang tukang becak syahdankketika tema saya tersebut menyewa becak dan dan minta diantar oleh si tukang becak tersebut ke tempat tujuan yang akan dikunjunginya di daerah bagian selatan kota Jombang Jawa Timur ketiaka melintasi perempatan yang persis di samping kanan badan jalan memampang foto seorang caleg kontan abang tukang becak itu berkata ‘’alah, wong dapurane nek ngiseng neng kali nggowo pecut ae kok ape nyaleg’’ kira-kira kalimat tersebut  terjemahannya begini  ‘’alah, orang kalau bunag hajat di sungai masih bawa ampuk aja mau nyoba-nyoba ikut nyalon jadi caleg’’ coba anda bayangkan apa yang di maksud dengan kalimat buang hajat masih bawa cambuk (Ngiseng nggowo pecut)? Telisik punya telisik bahwa yang dimaksud kalimat tersebut adalah calon legislatif yang memampang fotonya tersebut sangat pelit, kok bisa? Iya dong anda tahu mengapa ia berak ke sungai bawa cambuk? Karena cambuk itulah yang akan dipakai untuk menghancurkan kotorannya sampai lembut dan tak tersisa agar tak dimakan oleh ika-ikan yang ada di sepanjang aliran sungai.
Sungguh metafor yang supra-hebat, setingkat dengat puisinya Kahlil Gibran atau bahkan lebih indah, itu baru tukang becak, apalagi satrawan-satrawan jawanya, R. Ngabahei Ronggo Warsito atau bahkan Prabu Sri Aji Joyo boyo misalnya.
Tapi itulah, mungkin hikmah yang dimaksudkan Tuhan adalah janganlah membangga-bangakan nasab, karena sejarah mencatat bahwa “lembu peteng” lah yang sering meraih kesuksesan dalam memimpin sebuah “drama kehiidupan”.
Lalu, anda dan saya pun berfikir bagaimana caranya biar anak saya nasib dan nasabnya tidak jelas agar bisa dikatakan jadi lembu peteng?  Teman saya menjawab setelah nikah taruh saja anakmu di Dolly biar tidak jelas bapaknya entar siapa…konyol tapi masuk akal juga pikir saya, bagi yang berminat silahkan coba tapi bagi yang kurang nyali don’t try this action at home. Wallahu a’lam.
Fariz Alnizar
Karang Kabuludan, Cileduk 11 Agustus 2011